Dwilogi Padang Bulan & Cinta dalam Gelas; Enong…Aku Padamu…

Akhirnya saya membeli novel dwilogi Andrea yang terbaru; Padang Bulan dan Cinta dalam gelas.
Sebagai andreanis, novel ini benar-benar sdh sy tunggu. Kualitas bercerita Andrea sdh merupakan jaminan akan seperti apa novel ini. Dan benar saja, baru beberapa mozaik yang saya baca; Langsung merinding, mata saya berkaca.

Adalah Enong, pusat cerita dari Novel ini yang membuat saya berkali-kali menahan nafas. Bagaimana tidak ? diawal cerita novel pertama; Padang Bulan. Pembaca akan langsung dihadapkan pada situasi dramatis, tragedi yg sangat memilukan. Dimana Enong yang sedang bahagia-bahagianya menerima hadiah dari Ayahnya, yaitu sebuah kamus satu miliar kata. Hadiah dr ayah miskin nan sederhana, hasil menabung lama dari hasil bekerja serabutan. Ayah bijaksana itu…sangat mendukung anaknya untuk menjadi seorang guru bahasa inggris. Ayah yang penyayang itu… akan memberikan kejutan untuk istrinya berupa hadiah sepeda terbaru dan mengajak keluarganya ke pasar malam. Ayah yang sangat bertanggung jawab itu…mengalami nasib tragis yaitu meninggal karena kecelakaan saat bekerja, tertimbun lumpur.

Jadilah Enong. Seorang gadis kecil yang masih kelas enam SD. Tiba-tiba, scr otomatis, karena dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Harus memikul beban sbg kepala keluarga. Disinilah tragedi dan peristiwa demi peristiwa terjadi.

Syalimah – Ibu dari anak-anak yatim itu – harus merelakan anak pertamanya – Enong, yang masih kelas 6 SD, yg belum dapat ijazah SD, yg masih semangat sekolah, yang mencintai pelajaran bahasa inggris, pergi ke kota tanjong pandan untuk mencari pekerjaan. Gadis kecil yang kurus itu harus berjuang demi keluarganya, demi ibu dan adik-adiknya. Subuh buta Enong pun pergi ke Tanjong Pandan, diantar ibu dan adik-adiknya, numpang ke sebuah truk angkutan barang. Di kota, Enong berkeliling mencari-cari pekerjaan, dipikirannya hanyalah bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membantu keluarganya hidup.

Dikota, Enong harus bersaing dengan orang-orang dewasa, jelas saja dia kalah; tak ada yang mau menerima dia kerja. Enong balik ke kampung, dia ambil pacul dan peralatan tambang Ayahnya di rumah, dia pergi mencari timah. Ya…pekerjaan paling kasar di dunia ini pun dilakoni Enong, sekali lagi, demi hidup keluarganya, demi mimpi-mimpinya.

Selanjutnya kisah enong mengalir penuh drama. Dilain sisi, novel ini pun bercerita kisah legendaris percintaan Ikal dan A Ling. Cinta remaja yang unik, lucu, dilematis, dan penuh kejutan. Andrea sekali lagi berhasil meninggalkan kesan mendalam dalam novel ini. Ciri khasnya tetap sama, drama dan tragedi bercampur kelucuan-kelucuan, budaya melayu yang kental  menjadi ruh dalam dwilogi ini. Novel ini lengkap, kaya akan karakter, dan Enong – entah mengapa, membaca kisahnya membuat saya melamun akan masa lalu…

Enong, kamu sama denganku. Ditakdirkan menjadi anak yatim sejak kecil. Aku yatim sejak usiaku 5 tahun. Dan ibuku membesarkanku seorang diri.

Akupun dulu sepertimu Enong; semangatmu mewakili semangatku. Aku kuliah ke Bandung modal nekat, berusaha mandiri membiayai kuliah, mencoba berbisnis apa saja yang halal untuk survive.

Dan aku bisa, hingga akhirnya aku bisa lulus dengan predikat terbaik, dan kini aku hidup – dengan kondisi yang jauh lebih baik di Bandung, bahkan aku bisa membantu sekolah adik-adikku.

Membaca kisahmu; seperti cermin. Karena dulu aku pun memeras keringat sepertimu. Tetapi, kamu perempuan Enong…itu yang membuatku teramat kagum padamu. Kamu perempuan yang tangguh, hebat, dan bertanggung jawab. Membaca kisahmu…seperti meletupkan lagi memori “indah’ masa-masaku dulu, dan mengingatkanku lagi tentang hidup dan mimpiku yang jauh dari kata selesai. Aku ingin berkeringat lagi mencapai impian-impian yang lebih tinggi. Bagiku, bermimpi dan berjuang untuk menggapai impian adalah hal yang mengasyikan, dan penuh tantangan.

Terimakasih Enong, darimu aku belajar karakter pantang menyerah, darimu aku belajar untuk lebih mencintai keluargaku, darimu aku belajar untuk mencintai orang-orang yang lemah, mustadafhin.

Enong, Sungguh, Aku Padamu…

– abay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s