Choice Happines

Kalo dari kacamata org mungkin ini bulan penuh masalah, tp dimata sy ini adl bulan paling menyenangkan utk meningkatkan kreatifitas & karakter. Seperti kata Pak Heppy Trenggono : “Merdeka itu adalah bebas dari sedih dan khawatir” ^_^

Bulan ini saya merasa terbang. Masalah ada karena kita menganggapnya itu masalah. Tapi bukankah dalam kesulitan itu ada kekuatan untuk kita. Tuhan menyebutnya kemudahan. Saya menyebutnya kekuatan yang dikirimkan Tuhan.

Saya sudah merasakan hidup yang sebenarnya sampai detik ini. Rasanya, menyenangkan sekali harus dihadapkan pada tebing yang harus didaki, pada batu yang harus dihancurkan. Pada liku yang harus dilewati.

Saya bersyukur, atas senyum di pagi yang selalu mengembang. Atas hari-hari yang dilalui penuh antusiasme. Atas peningkatan kreatifitas dan karakter yang dicapai. Ya, sampai detik ini tetap bisa bersyukur untuk terus menjadi manusia merdeka. Seperti kata Pak Heppy Trenggono : “Merdeka itu adalah bebas dari sedih dan khawatir”

I’ve chosen to live Happy, and will remain so until whenever..

🙂

Advertisements

Mengapa bangsa Asia kalah dari bangsa Barat ?

Hmm, pagi ini disebuah milis ada sebuah postingan yg sangat menarik untuk di copas 🙂

dari milis alumni sbm 2007, posted by FR :

Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari bangsa Barat?

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi  ternyata menjadi “best seller”.  (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran  banyak orang:

1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi org Asia, banyaknya  kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang  bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku  koruptif pun ditolerir/ diterima sbg sesuatu yg wajar.
Continue reading