Dwilogi Padang Bulan & Cinta dalam Gelas; Enong…Aku Padamu…

Akhirnya saya membeli novel dwilogi Andrea yang terbaru; Padang Bulan dan Cinta dalam gelas.
Sebagai andreanis, novel ini benar-benar sdh sy tunggu. Kualitas bercerita Andrea sdh merupakan jaminan akan seperti apa novel ini. Dan benar saja, baru beberapa mozaik yang saya baca; Langsung merinding, mata saya berkaca.

Adalah Enong, pusat cerita dari Novel ini yang membuat saya berkali-kali menahan nafas. Bagaimana tidak ? diawal cerita novel pertama; Padang Bulan. Pembaca akan langsung dihadapkan pada situasi dramatis, tragedi yg sangat memilukan. Dimana Enong yang sedang bahagia-bahagianya menerima hadiah dari Ayahnya, yaitu sebuah kamus satu miliar kata. Hadiah dr ayah miskin nan sederhana, hasil menabung lama dari hasil bekerja serabutan. Ayah bijaksana itu…sangat mendukung anaknya untuk menjadi seorang guru bahasa inggris. Ayah yang penyayang itu… akan memberikan kejutan untuk istrinya berupa hadiah sepeda terbaru dan mengajak keluarganya ke pasar malam. Ayah yang sangat bertanggung jawab itu…mengalami nasib tragis yaitu meninggal karena kecelakaan saat bekerja, tertimbun lumpur.
Continue reading

Menunggu Film Sang Pemimpi

sang pemimpi poster

“…Menurut saya, dari keempat novel Tetralogi Laskar Pelangi, Novel ke-2 Sang Pemimpi adalah yang terbaik…”

Anda menunggu film Sang Pemimpi ?
Yaps, same with me guys…Rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan sekuel dari cerita tetralogi Laskar Pelangi ini. Apalagi, film pertama Laskar Pelangi berhasil sukses baik secara kualitas maupun pasar.

Tokoh yang saya suka dalam cerita Sang Pemimpi adalah Arai. Seorang Pejuang Kehidupan yang selalu berani mengambil resiko dan pengorbanan baik untuk dirinya sendiri maupun sahabat dan juga saudara angkatnya; Ikal.
Continue reading

Belajar Hidup dari Lintang

lintang

Lintang adalah tokoh Laskar Pelangi yang sangat saya kagumi. Darinya saya belajar banyak tentang bagaimana mengartikan dan menjalankan hidup dengan penuh antusiasme untuk belajar dan meraih kepercayaan untuk mengubah hidup itu sendiri. Lintang sangat percaya bahwa kalau dia belajar, kalau lah seandainya dia pintar, maka dia mampu mengubah nasib keluarganya. Sayang nasib tak berpihak kepadanya karena Ayah-nya meninggal dunia sebelum semua impiannya tercapai. Tapi, kehidupan telah memberi dia “Applaus” untuk kegigihannya itu. Bagiku, dia adalah pemenang sejati.

Continue reading