Titik Nol

Sebelum terlambat. Manusia bisa mati kapanpun. Bisa pagi sore malam atau esok hari.

Melihat kembali lembar kehidupan, ada lembar demi lembar yang sengaja tak sengaja terkotori.

Mungkin. Inilah saat yang tepat, inilah hari yang pasti. Dan tak akan menunggu esok hari, atau minggu bulan berlalu.

Bergegas.

Berhenti Sejenak.

Aku ingin menyentuh syahdu dan hening arsy.

Bersama kekasih sejatiku. Bersama irama bening hatiku. Bersama kegalauan batinku. Memanggil-manggil namamu,

Rabbi.

Dititik ini. Hamba mengadu. Ikhlas Berserah diri pada-MU….

20 Ramadhan

Advertisements

Sabda Embun

Merasai hari. Terkadang kita bergerak dalam bimbang dan sendu. Namun, cinta lah yang membuat kita yakin dan mengerti. Bahwa kita tak sendiri, bahwa matahari selalu tersenyum dipagi; Mengirimkan sejuta cinta-Nya untuk kita…

Today, I really feel the greatness of God…:)

 

 

Merenungi Puisi Hasan Al Basri

Ada gerimis, letup gemericik didada saat saya membaca puisi Hasal Al Basri ini. Merenung dan Malu. Puisi ini akan selalu saya lihat ketika pulang ke rumah di Cipanas. Karena Ibu saya-dengan tulisan tangannya sendiri-menulis kembali Puisi indah ini dalam sebuah kertas, dan memasangnya disamping lemari pakaian…:). Mengingatkan anak-anaknya untuk senantiasa Tawakal.

Puisi Hasan Al Basri

Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain. Karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain. Maka aku sibukkan diriku untuk beramal.
Aku tahu Allah selalu melihatku. Karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat.
Aku tahu kematian menantiku. Maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku.

Merindu Ramadhan

Merindu Ramadhan
Jiwaku yang kering ini
Merindu Ramadhan
Tubuhku yang lemah ini
Merindu Ramadhan
Hatiku yang payah ini
Merindu Ramadhan
Merindu Kasih SayangNYA….

Saat Allah menyapa hati…membuka sedikit rahasiaNYA yang suci nan agung. Dunia serasa begitu indah, dan tubuh yang berlumur dosa serasa merindu suatu bulan yang keindahannya maha terperi. Sungguh menggetarkan.
Kata nabi, dia adalah ratu segala bulan. Duh, rasanya baru saja kemarin, baru beberapa saat berlalu…..dan kini akan tiba lagi bulan nan dinanti itu. Dan bagiku, penantian ini memberikan gejolak rindu yang sangat. Hatiku serasa hangat menunggu. Jiwaku telah sampai pada puncak rindu. Rasanya ingin sesegera mungkin, menghitung detik, merasai hari demi hari, sampai saatnya fajar ramadhan tiba.
ah…
Tentunya indah nian saat itu.
Sama seperti semesta, alam dan matahari yang merindu keagungannya. Sama seperti jutaan jiwa yang menanti kedatangannya.

“Rinduku….
adalah penantian segala harapku,
Rabbi, sang pemilik pengendali waktu,
sampaikan hamba pada ramadhanMU. Agar bisa hamba mengadu bercinta denganMU, dibulan mulia nan agung yang dinantikan ;
Bulan Ramadhan….
Amien.”

Subuh Kerinduan

Rindu itu,
adalah embun yang matahari lembut menyapanya…
menjadikannya terbang untuk bisa menyapa langit.

Rindu itu,
adalah alam ma’rifat penuh keindahan yang :
Jika kita menggapai-NYA, maka bahagia akan bermukim dalam kesempurnaan hati.

Rindu itu,
bagiku seperti seorang lelaki yang menunggui subuh demi subuh
dengan penyesalan yang menggumpal
dan rasa cinta yang mendalam
pada Rabb-NYA.

Rindu itu,
tlah membuatku terisak-isak
tlah membasahi hati dan sajadahku

Rindu itu,
terucap lirih dalam lafadz-lafadzku
terngiang sejuk menyentuh ujung kalbu
merayu-rayu dalam setiap hembus nafasku

Rindu itu,
tak kan pernah bosan kumenungguinya
Rindu itu,
ada dalam waktu yang bernama:
subuh.

————-

tempat kerja,soreharimenjelangpulang.240408

………saat-saat kumerindukannya dengan sangat……….

Jiwa Yang Hening

Hening…

Kuharap jiwaku tak membeku
Sedang lautan membuatku terpaksa diam
Terpaksa hina dalam keadaan
Ah,
Hidup teramat lelah untuk disebrangi
Dan keringat tak berarti pengorbanan setimpal
Kita, manusia !
Seharusnya hanya tahu bagaimana mengartikan
Bagaimana caranya memberikan
Bagaimana hidup dijalankan
Dengan arti, petunjuk, dan arah yang pasti

Sungguh !
Lenalah kita,
Lenalah aku,

Hening…

Sepertinya aku harus kembali
Berhenti berlayar
Dan bersujud di pantai
Memanggil-manggil lagi
Menyahut walau perlahan,

Allah….Allah…Allah….

Aku,
Datang,
Lagi.

salahsaturuangkecildiitb. nov06